Ekonom Rabbani Dalam Lembaga Keuangan Mikro Syariah “BMT”

Karyawan BMT Karisma outbond ke Gunung Tidar dalam rangka Qoyyimul Jismi

LKMS BMT hadir sebagai intermediasi (penghubung) antara agniya’(pihak yang memiliki dana berlebih) kepada dhuafa (pihak yang kekurangan dana). LKMS BMT menjalankan fungsinya sebagai intermediasi, dengan cara memberikan pelayanan funding (penghimpunan dana) dari agniya’ (anggota penabung) dan lending (penyaluran dana) dari anggota penabung kepada angota peminjam dana/modal. Adapun definisi BMT adalah terdiri dari dua istilah, yaitu baitul maal dan baitul tamwil. Baitul maal lebih mengarah pada usaha-usaha pengumpulan dan penyaluran dana yang non profit, seperti zakat, infak dan shodaqoh. Sedangkan baitut tamwil sebagai usaha pengumpulan dan penyaluran dana komersial (Prof. H A. Djazuli: 2002).

Peranan SDI (sumber daya insani) yang professional menjadi prioritas utama bagi sebuah lembaga. Dalam LKMS, SDI tidak hanya seorang yang cakap intelektualnya saja, namun kecerdasan emosi dan spiritual merupakan kriteria yang wajib dimiliki.

Dalam menjalankan aktifitasnya, sumber daya insani LKMS BMT memiliki karakter cakap dengan meneladani akhlak Rasulullah SAW. Pelaku ekonomi yang meneladani akhlak Rasulullah inilah yang dimaksud Ekonom Rabbani,  seorang yang memiliki aqidah lurus, berakhlak mulia, serta menjunjung tinggi nilai-nilai syariat Islam. Semua itu tergabung pada sebuah karakter tangguh dalam jiwa seseorang, yaitu pada diri kita sebagai pelaku ekonomi yang mana dalam pembahasan ini adalah SDI BMT. Sumber daya insani yang memiliki karakter tangguh pasti memiliki etos kerja tinggi, karena memiliki motivasi ilahiah. Ekonom Rabbani bekerja tidak untuk mengejar dunia, tetapi bekerja adalah ibadah, karena manusia di dunia adalah sebagai khalifah Allah yang diperintahkan untuk memakmurkan bumi. Allah menghendaki hambanya menjadi orang  sukses, oleh karena itu SDI wajib memiliki etos kerja tinggi dan berkepribadian ilahiah agar tercapai pengertian Ekonom Rabbani. Untuk mewujudkannya, SDI dapat mempelajari dan mengintrospeksi diri bagaimana cara menjadi Ekonom Rabbani yang saleh. Menurut Hassan Al Banna dalam kitab Mushafat Muslimin disebutkan sepuluh karakteristik pribadi muslim yang saleh, yaitu: Salimul Aqidah (aqidah yang lurus),  Shahihul Ibadah (ibadah yang benar), Matinul Khuluq (akhlak yang mulia), Qowiyyul Jismi (kekuatan jasmani), Mutsaqqoful Fikri (intelektual dalam berpikir), Mujahadatun Linafsihi (berjuang melawan hawa nafsu), Harishun ‘ala Waqtihi (pandai mengatur waktu), Munazhzhamun fi Syu’unihi (teratur dalam suatu urusan), Qodirun ‘alal Kasbi (kemampuan berusaha/mandiri), dan Naafi’un Lighoirihi (bermanfaat bagi orang lain).

Persiapan booming Simpanan dan Pembiayaan, Pasar Windusari oleh karyawan BMT Karisma

Ekonom Rabbani adalah seorang yang berjiwa ingin maju, seorang yang bercita-cita untuk mensejahterakan bumi Allah, oleh karena itu kita perlu memiliki motivasi atau sumber kekuatan dalam bekerja. Dalam buku ESQ Ary Ginanjar, kekuatan bekerja seorang muslim disiratkan Allah dalam surat Al Fatihah, adapun uraiannya sebagai berikut:

Alhamdulillahirabbil ‘Alamiin (Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam). Memuji Allah dengan berpikir dan berjiwa besar, merasa dalam curahan Rahmat Allah sehingga akan merasa tentram dan terlindungi karena didasari oleh kepercayaan bahwa kita bekerja untuk mensejahterakan  bumi Allah. Bersedia menggunakan potensi diri secara maksimal.

Arrahmaanirrahiim (Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang). Sikap mengasihi sesama. Untuk meraih kepercayaan, harus didasari oleh sikap rahman-rahim kepada orang lain, dan selalu berusaha membantu dan menolong orang lain.

Maaliki Yaumiddiin (Yang merajai Hari pembalasan). Memiliki tujuan (visioner). Selalu berorientasi ke masa depan, memiliki harapan yang jelas, serta memiliki perencanaan untuk setiap langkah yang akan dibuat. Sehingga akan memiliki kesadaran penuh bahwa keberhasilan tidak bisa ditempuh dengan cara-cara yang buruk. Harus bertindak atas nama Allah, selalu memuji dan mengingat Allah, dan berbekal sikap rahman-rahim dalam mencapai suatu tujuan. Inilah jaminan masa depan dari Allah bagi orang yang beriman dan bertakwa.

Iyyaka Na’budu wa Iyyaaka Nasta’iin (Hanya kepadaMu kami mengabdi dan hanya kepadaMu kami menyembah). Berprinsip tunggal (integrity) hanya kepada Allah yang Maha Esa. Bekerja secara sungguh-sungguh dan selalu bersikap jujur. Memiliki komitmen dan konsisten dalam mencapai tujuan. Selalu merasa diri dilihat oleh Allah. Siap menghadapi segala tantangan dan siap menghadapi segala kegagalan ataupun keberhasilan.

Ihdinash Shiraathal Mustaqiim (Tunjukilah kami jalan yang lurus). Pedoman, berupa tindakan yang dilandasi pada format hati dan fikiran yang terbentuk pada ayat 1, 2, 3, 4, dan 5, yaitu bertindak atas nama Allah, selalu bersikap rahman-rahim, memiliki visi, memiliki integritas tinggi, dan hanya berpegang kepada Allah SWT.

Shiraathal Ladziina An’amta ‘Alaihim, Ghairil Maghdhuubi ‘Alaihim Waladh Dhaalliin (Jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat, bukan jalan mereka yang dimurkai, bukan pula jalan yang sesat). Penyempurnaan, teruslah mengasah hati, pikiran dan pelaksanaan tugas dan cita-cita secara terus menerus, sehingga terbentuk suatu tingkatan baru yang lebih baik dan sempurna. Evaluasi pikiran, hati, dan kerjaan agar senantiasa berada pada jalan yang benar serta mencari ridha Allah.

Prospek anggota layanan Pasar Secang Magelang

Dari hasil pemikiran Hassan al Banna tentang karakter muslim yang saleh dan tafsir surat Al Fatihah Ary Ginanjar sebagai kekuatan bekerja, bisa dijadikan panduan untuk menjadi Ekonom Rabbani yang akan terus berjuang memakmurkan bumi Allah. Semoga dengan mempelajarinya SDI BMT menjadi ekonom yang berjiwa tangguh, karena ketagguhan pribadi muncul ketika seseorang mengenal jati diri spiritualnya melalui inner journey (perjalanan ruhiah). *Luluk Akmelia, SEI

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *